0
75

Perbatasan China Akan Tetap Ditutup Hingga Paruh Kedua 2022

Mella Swistariu | Wednesday, 15 September 2021

Sedang buru-buru? Berikut adalah sorotannya:

  1. Media-media utama melaporkan bahwa pemerintah China berencana untuk tetap melaksanakan sebagian besar penutupan perbatasan saat ini hingga paruh pertama 2022.
  2. Hal ini berarti puluhan ribu mahasiswa asing yang berada di luar China tidak akan dapat memulai atau melanjutkan studi mereka di China pada tahun ajaran yang sedang berlangsung.

Laporan dari Times Higher Education, Wall Street Journal dan lainnya menunjukkan bahwa pembatasan perbatasan China saat ini akan tetap berlaku hingga paruh kedua tahun 2022.

Berita ini muncul saat tahun ajaran baru sedang berlangsung di Chian bulan ini, saat sebuah peristiwa yang dilaporkan telah menyebabkan sejumlah universitas menghubungi mahasiswa asing mereka dan meminta mereka untuk menunda keberangkatan studi ke satu tahun kedepan.

China mendaftarkan hampir 500.000 mahasiswa asing pada tahun 2019, tetapi perbatasannya telah ditutup untuk mahasiswa internasional sejak awal 2020. Meskipun beberapa kelompok pelajar terus melobi, tidak ada indikasi pelonggaran aturan perbatasan tersebut untuk tahun akademik saat ini.

Sebaliknya, Wall Street Journal melaporkan pertemuan Dewan Negara China pada bulan Mei yang menetapkan bahwa control perbatasan yang ketat akan tetap berlaku hingga paruh pertama tahun 2022. Keputusan tersebut tampaknya disebabkan oleh dua peristiwa besar, yakni Olimpiade Musim Dingin yang akan diadakan di Beijing pada Februari 2022 dan Kongres Besar Partai Komunis pada akhir tahun dimana Presiden Xi Jinping diperkirakan akan mengincar masa jabatan tambahan sebagai pemimpin pemerintahan China.

Situasi ini semakin serius bagi puluhan ribu mahasiswa (kebanyakan) dari Asia Selatan dan Afrika, yang terdaftar dalam studi kedokteran dan program ilmu terapan lainnya di China. Para mahasiswa tersebut tidak dapat melanjutkan studi mereka atau setidaknya komponen klinis atau praktikum selama masa pandemi. Pelatihan serta tujuan professional mereka sekarang diambang ketidakpastian sedangkan perbatasan negara tersebut masih ditutup.

Hingga saat ini, hanya pengecualian terbatas yang diizinkan, termasuk untuk mahasiswa dari Korea Selatan serta mereka yang menghadiri beberapa program usaha patungan asing. Kurangnya transparansi dan kejelasan dalam pendekatan pemerintah terhadap mahasiswa asing pun memicu frustrasi, yang terutama terlihat di media social dan saluran online lainnya.

Berbicara kepada Times Higher Education akhir bulan lalu, Curtis Chin, mantant duta besar As untuk Asian Development Bank mengatakan, “Siswa yang telah terhambat studinya karna pembatasan perjalanan COVID-19 terus menerus untuk pantut diberikan kepedulian, konsistensi dan transparansi yang lebih besar, serta komunikasi yang terbuka dan jujur.

China juga menambahkan bahwa, “Citra China, khususnya sebagai mitra global dalam Pendidikan, kemungkinan akan rusak dalam jangka pendek hingga menengah karena inkonsistensi negara tersebut dalam berurusan dengan mahasiswa internasional dari berbagai negara terus berlanjut.”

Silahkan isi form dibawah ini untuk info lebih lanjut: