0

Australia Menyetujui Pilot Program Untuk Membawa Siswa Internasional Ke Northern Territory (NT)

Penerjemah : Cristine Devi Claudia | Friday, 16 October 2020

Australia menyetujui pilot program untuk membawa siswa internasional ke Northern Territory (NT) 

Australia telah mengumumkan pilot atau percobaan kedua yang disetujui oleh pemerintah federal setempat untuk membawa siswa internasional kembali ke negara itu dalam kondisi yang aman sesuai dengan protokol. Siswa internasional yang datang akan dikontrol ketat dan menjalankan karantina wajib selama dua minggu. Urgensi menjalankan pilot ini semangkin mengingkat, mengingat sejumlah universitas-universitas di Australia dan ekonomi nasional telah mengalami kerugian melebih miliaran dolar sebagai akibat dari border negara yang ditutup dan siswa internasional yang tidak dapat datang kembali ke kampus.

Selain itu, negara lain juga telah mulai melonggarkan lock down demi menarik Kembali para siswa internasional. Inggris telah membuka perbatasannya bagi pelajar dan British Universities mencarter penerbangan khusus bagi pelajar dari China. Baru-baru ini, Kanada juga telah mengumumkan akan membuka kembali perbatasan negaranya untuk siswa internasional mulai 20 Oktober 2020.

Disetujui Namun Belum Diterapkan

Pilot pertama Australia diumumkan pada bulan Agustus lalu dengan ancangan  membawa sekitar 300 siswa Asia kembali ke universitas Australia Selatan pada bulan September. Namun, rencana tersebut tersebut ditunda. Mengenai hal tersebut, Menteri Pendidikan, Dan Tehan mengatakan kepada ABC News bahwa, “Jelas ada pengumuman bahwa Australia Selatan sangat ingin memulai pilot tersebut, tetapi kami juga telah menjelaskan bahwa Australia masih harus menyelesaikan masalah perbatasan internal, tapi kami akan terus mengatasi masalah tersebut."

Pilot kedua yang disetujui diumumkan oleh Kepala Menteri Wilayah Utara Michael Gunner pada 28 September. Penerbangan sewaan dari Singapura akan membawa sekitar 70 siswa dari Cina, Malaysia, dan Singapura ke Darwin di Northern Territory pada akhir Oktober.

Ketika para siswa tiba, mereka akan langsung menuju fasilitas karantina Howard Springs dan kemudian ke Universitas Charles Darwin (CDU) untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi dan kursus VET. NT Independent (badan independen negara bagian utara) melaporkan bahwa para siswa sendiri yang akan membayar biaya karantina sebesar AUS $ 2.500, dan menyatakan bahwa,
“Kepala Petugas Kesehatan NT Dr Hugh Heggie telah menyetujui rencana kesehatan dan kesejahteraan ini. Rencana ini mencakup kesehatan dan dukungan kesejahteraan yang akan diberikan oleh staf Universitas Charles Darwin.”

Fasilitas Howard Springs adalah bekas kompleks perumahan pekerja yang digunakan untuk mengkarantina. Hingga saat ini, Howards Springs telah mengkarantina lebih dari 1.100 orang. "Bagi saya, prioritasnya adalah bagaimana kita menjaga orang-orang yang berada di karantina di Howard Springs dengan aman sehingga kita tidak akan membahayakan siapa pun," tambah Kepala Menteri Gunner.

“Siapa pun yang datang dari luar negeri dan ke Darwin, harus berdiam di fasilitas karantina tersebut secara terjadwal. Pemerintah Australia dan Pemerintah Territory akan membawa mereka masuk dan juga memastikan penjagaan keamanan wilayah setempat.”
Populasi siswa internasional di teritori tersebut juga terus meningkat selama empat tahun terakhir, dengan Kepala Menteri mencatat bahwa total pendaftaran tumbuh dari lebih dari 1.000 pada tahun 2016 menjadi 2.500 tahun lalu.

Andrew Everett, Deputy Vice-Chancellor Global Strategy and Advancement, menyambut baik persetujuan pemerintah atas uji coba tersebut dan menambahkan bahwa, “Pelajar internasional menyumbang sekitar AUS $ 99 juta ke dalam perekonomian NT setiap tahun dan mendukung hampir 500 pekerjaan. Keberhasilan percontohan ini diharapkan dapat berkontribusi pada pemulihan ekonomi NT. Ini merupakan terobosan bagi Australia dan khususnya Charles Darwin University (CDU), institusi pendidikan yang akan diujicobakan sebagai koridor aman pertama, dibantu dengan memiliki fasilitas perumahan Howard Springs.”


Taruhan yang cukup tinggi
Mahasiswa internasional menyumbang AUS $ 37,6 miliar bagi pendapatan ekonomi nasional Australia tahun lalu, tetapi virus corona dan penutupan perbatasan yang diakibatkannya serta sejumlah faktor lain akan membuat dampak ekonomi mereka pada 2020 dan 2021 akan turun secara signifikan.
Berbagai negara bagian Australia telah lock down dan membatasi secara ketat jumlah kedatangan dari luar negeri sehingga ribuan warga Australia pun harus terdampar di luar negeri selama berbulan-bulan. Hal ini menyebabkan dilema tentang membawa pulang warga negara Australia terlebih dahulu sebelum mengizinkan siswa internasional kembali masuk ke wilayah negara.
Universitas-universitas Australia harus menanggung biaya yang sangat mahal dan kerugian besar: menurut Biro Statistik Australia, hanya 40 siswa internasional yang dapat kembali pada bulan Juli ke Australia tepat waktu untuk semester kedua, dibandingkan dengan sekitar 144.000 pada Juli 2019.The stakes are high.

Tidak mengherankan, jumlah siswa yang menunda program mereka meningkat begitu pesat tahun ini. Tentu saja, permohonan visa dari siswa internasional di luar negeri juga menurun drastis. Menurut data laporan Departemen Dalam Negeri, terjadi sebanyak 40% penurunan permohonan visa hingga Juli 2020, Seiring pandemi terus berlanjut, pemerintah di berbagai lokasi tujuan studi utama mengusahakan pemulihan ekonomi selagi mencoba mengurangi risiko wabah COVID-19. Bagi komunitas pendidikan internasional di Australia sendiri, dua pilot percobaan baru tidak dapat segera terjadi sebagaimana yang direncanakan. Namun, pemerintah tetap optimis melihat perkembangan baik terkait pilot percobaan kedatangan selanjutnya.

 

Silahkan isi form dibawah ini untuk info lebih lanjut: